INFO TERBARU

Permata@Sejarah

Raja-Raja@Bone

Permata@Jurnal

Permata@Budaya

Permata@Mistik

Permata @ Berita

Permata @ Budaya

Sabtu, 11 Oktober 2014

Kepiawaian Orang Bugis

Orang Bugis merupakan kelompok etnik yang berasal dari Sulawesi Selatan. Ciri utama kelompok etnik ini adalah bahasa dan adat-istiadat, sehingga pendatang Melayu dan Minangkabau yang merantau ke Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai tenaga administrasi dan pedagang di Kerajaan Gowa dan telah terakulturasi, juga dikategorikan sebagai orang Bugis.

Berdasarkan sensus penduduk Indonesia tahun 2000, populasi orang Bugis berjumlah sekitar enam juta jiwa. Kini orang-orang Bugis menyebar pula di berbagai provinsi Indonesia, seperti Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Orang Bugis juga banyak yang merantau ke mancanegara bahkan mereka menyebar keseluruh dunia.

Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Melayu Deutero. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi.
La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayah dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio.

Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.

Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain, Bone, Wajo, Soppeng, Luwu,Suppa, Sawitto, Sidenreng Rappang. Meski tersebar dan membentuk suku Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar.

Dan komunitas suku Bugis terbesar terdapat di kabupaten Bone hingga tahun 2012, jumlah penduduk Kabupaten Bone sebanyak 728.737 jiwa, terdiri atas 347.707 laki‐laki dan 381.030 perempuan. (Bone Dalam Angka 2013, Sumber www.bone.go.id)

Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu, Bone, Wajo, Soppeng, Luwu, Sidrap, Pinrang, dan Barru.  Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan.

Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina (yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan)

Masa Kerajaan Bone

Di daerah Bone terjadi kekacauan selama tujuh generasi, yang kemudian muncul seorang To Manurung yang dikenal Manurungnge ri Matajang. Tujuh raja-raja kecil melantik Manurungnge ri Matajang sebagai raja mereka dengan nama Arumpone dan mereka menjadi dewan legislatif yang dikenal dengan istilah ade pitue. Manurungnge ri Matajang dikenal juga dengan nama Mata Silompoe. Adapun ade' pitue terdiri dari matoa Ta, matoa Tibojong, matoa Tanete Riattang, matoa Tanete Riawang, matoa Macege, matoa Ponceng.

Istilah matoa kemudian menjadi arung. setelah Manurungnge ri Matajang, kerajaan Bone dipimpin oleh putranya yaitu La Ummasa' Petta Panre Bessie. Kemudian kemanakan La Ummasa' anak dari adiknya yang menikah raja Palakka lahirlah La Saliyu Kerrempelua. pada masa Arumpone (gelar raja bone) ketiga ini, secara massif Bone semakin memperluas wilayahnya ke utara, selatan, dan barat

Masa Kerajaan Gowa

Di abad ke-12, 13, dan 14 berdiri kerajaan Gowa, Soppeng, Bone, dan Wajo, yang diawali dengan krisis sosial, dimana orang saling memangsa laksana ikan (Dalam bagas Bugis Bone disebut Sianre Bale). Kerajaan Gowa kemudian mendirikan kerajaan pendamping, yaitu kerajaan Tallo. Tapi dalam perkembangannya kerajaan kembar ini (Gowa & Tallo) kembali menyatu menjadi kerajaan Gowa.

Masa Kerajaan Soppeng


Di saat terjadi kekacauan, di Soppeng muncul dua orang To Manurung. Pertama, seorang wanita yang dikenal dengan nama Manurungnge ri Goarie yang kemudian memerintah Soppeng Riaja. dan kedua, seorang laki-laki yang bernama La Temmamala Manurungnge ri Sekkanyili yang memerintah di Soppeng Rilau. Akhirnya dua kerajaan kembar ini menjadi Kerajaaan Soppeng.

Masa Kerajaan Wajo

Sementara kerajaan Wajo berasal dari komune-komune dari berbagai arah yang berkumpul di sekitar danau Lampulungeng yang dipimpin seorang yang memiliki kemampuan supranatural yang disebut puangnge ri lampulung. Sepeninggal beliau, komune tersebut berpindah ke Boli yang dipimpin oleh seseorang yang juga memiliki kemampuan supranatural.

Datangnya Lapaukke seorang pangeran dari kerajaan Cina (Pammana) beberapa lama setelahnya, kemudian membangun kerajaan Cinnotabbi. Selama lima generasi, kerajaan ini bubar dan terbentuk Kerajaan Wajo. Kerajaan pra-wajo yakni Cinnongtabi dipimpin oleh masing-masing : La Paukke Arung Cinnotabi I, We Panangngareng Arung Cinnotabi II, We Tenrisui Arung Cinnotabi III, La Patiroi Arung Cinnotabi IV. setelahnya, kedua putranya menjabat sekaligus sebagai Arung Cinnotabi V yakni La Tenribali dan La Tenritippe.

Setelah mengalami masa krisis, sisa-sisa pejabat kerajaan Cinnotabi dan rakyatnya bersepakat memilih La Tenribali sebagai raja mereka dan mendirikan kerajaan baru yaitu Wajo. adapun rajanya bergelar Batara Wajo.

Wajo dipimpin oleh, La Tenribali Batara Wajo I (bekas arung cinnotabi V), kemudian La Mataesso Batara Wajo II dan La Pateddungi Batara Wajo III. Pada masanya, terjadi lagi krisis bahkan Batara Wajo III dibunuh. kekosongan kekuasaan menyebabkan lahirnya perjanjian La Paddeppa yang berisi hak-hak kemerdekaan Wajo. setelahnya, gelar raja Wajo bukan lagi Batara Wajo akan tetapi Arung Matowa Wajo hingga adanya NKRI

Orang Bugis Masa Konflik antar Kerajaan

Pada abad ke-15 ketika kerajaan Gowa dan Bone mulai menguat, dan Soppeng serta Wajo mulai muncul, maka terjadi konflik perbatasan dalam menguasai dominasi politik dan ekonomi antar kerajaan. Kerajaan Bone memperluas wilayahnya sehingga bertemu dengan wilayah Gowa di Bulukumba. Sementara, di utara, Bone bertemu Luwu di Sungai Walennae.

Sedang Wajo, perlahan juga melakukan perluasan wilayah. Sementara Soppeng memperluas ke arah barat sampai di Barru. Perang antara Luwu dan Bone dimenangkan oleh Bone dan merampas payung kerajaan Luwu kemudian mempersaudarakan kerajaan mereka. Sungai Walennae adalah jalur ekonomi dari Danau Tempe dan Danau Sidenreng menuju Teluk Bone.

Untuk mempertahankan posisinya, Luwu membangun aliansi dengan Wajo, dengan menyerang beberapa daerah Bone dan Sidenreng. Berikutnya wilayah Luwu semakin tergeser ke utara dan dikuasai Wajo melalui penaklukan ataupun penggabungan. Wajo kemudian bergesek dengan Bone. Invasi Gowa kemudian merebut beberapa daerah Bone serta menaklukkan Wajo dan Soppeng. Untuk menghadapi serangan Gowa, Kerajaan Bone, Wajo, dan Soppeng membuat aliansi yang disebut "Tellumpoccoe".

Orang Bugis di Masa Kolonialisme Belanda

Pertengahan abad ke-17, terjadi persaingan yang tajam antara Gowa dengan VOC hingga terjadi beberapa kali pertempuran. Sementara Arumpone ditahan di Gowa dan mengakibatkan terjadinya perlawanan yang dipimpin La Tenri Tatta Daeng Serang Arung Palakka.

Arung Palakka didukung oleh Turatea, kerajaaan kecil Makassar yang berhianat pada kerajaan Gowa. Sementara Sultan Hasanuddin didukung oleh menantunya La Tenri Lai Tosengngeng Arung Matowa Wajo, Maradia Mandar, dan Datu Luwu. Perang yang dahsyat mengakibatkan banyaknya korban di pihak Gowa & sekutunya. Kekalahan ini mengakibatkan ditandatanganinya Perjanjian Bongaya yang merugikan kerajaan Gowa.

Pernikahan Lapatau Matanna Tikka Raja Bone ke-16 dengan putri Datu Luwu, Datu Soppeng, dan Somba Gowa adalah sebuah peristiwa yang mengawali proses rekonsiliasi atas konflik di jazirah Sulawesi Selatan. Setelah itu tidak adalagi perang yang besar sampai kemudian pada tahun 1905-1906 setelah perlawanan Sultan Husain Karaeng Lembang Parang dan La Pawawoi Karaeng Segeri Arumpone dipadamkan, maka masyarakat Makassar dan Bugis baru bisa betul-betul ditaklukkan Belanda.

Kosongnya kepemimpinan lokal mengakibatkan Belanda menerbitkan Korte Veklaring, yaitu perjanjian pendek tentang pengangkatan raja sebagai pemulihan kondisi kerajaan yang sempat terjadi kekosongan pemerintahan setelah penaklukan. Kerajaan tidak lagi berdaulat, tapi hanya sekadar perpanjangan tangan kekuasaaan pemerintah kolonial Hindia Belanda, sampai kemudian muncul Jepang tahun 1942 menggeser Belanda hingga berdirinya NKRI.

Mata Pencaharian Orang Bugis

Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.dan ekonomi, bahkan saudar Bugis sampai ke mancanegara.

Sejak Perjanjian Bongaya yang menyebabkan jatuhnya Makassar ke tangan kolonial Belanda, orang-orang Bugis dianggap sebagai sekutu bebas pemerintahan Belanda yang berpusat di Batavia. Jasa yang diberikan oleh Arung Palakka, seorang Bugis asal Bone kepada pemerintah Belanda, menyebabkan diperolehnya kebebasan bergerak lebih besar kepada masyarakat Bugis. Namun kebebasan ini disalahagunakan Bugis untuk menjadi perompak yang mengganggu jalur niaga Nusantara bagian timur.

Karena orang Bugis tak mau diperintah Belanda maka mereka membentuk kelompok Armada mengambil paksa harta kompeni yang mulai menguasai seluruh kerajaan-kerajaan Bugis. Orang  Bugis merambah diseluruh Kepulauan Indonesia. Mereka bercokol di dekat Samarinda dan menolong sultan-sultan Kalimantan di pantai barat dalam perang-perang internal mereka. Orang-orang  Bugis ini menyusup ke Kesultanan Johor dan mengancam pendudukan Belanda di benteng Malaka. Orang Bugis memiliki prinsip kuat dan jiwa merantau dan loyalitasnya terhadap persahabatan orang-orang Bugis terkenal sebagai serdadu bayaran untuk memperdaya Belanda.

Orang-orang Bugis sebelum konflik terbuka dengan Belanda mereka banyak membantu   serdadu Belanda, yakni saat pengejaran Trunojoyo di Jawa Timur, penaklukan pedalaman Minangkabau melawan pasukan Paderi, serta membantu orang-orang Eropa ketika melawan Ayuthaya di Thailand.  Orang-orang Bugis juga terlibat dalam perebutan kekuasaan dan menjadi serdadu bayaran Kesultanan Johor, ketika terjadi perebutan kekuasaan melawan para pengelana Minangkabau pimpinan Raja Kecil.

Orang Bugis Piawai

Kepiawaian suku Bugis dalam mengarungi samudra cukup dikenal luas, dan wilayah perantauan mereka pun hingga Malaysia, Filipina, Brunei, Thailand, Australia, Madagaskar dan Afrika Selatan. Bahkan, di pinggiran kota Cape Town, Afrika Selatan terdapat sebuah kampung yang bernama Maccassar, sebagai tanda penduduk setempat mengingat tanah asal nenek moyang mereka.

Setelah dikuasainya kerajaan Gowa oleh VOC pada pertengahan abad ke-17, banyak perantau Melayu dan Minangkabau yang menduduki jabatan di kerajaan Gowa bersama orang Bugis lainnya, ikut serta meninggalkan Sulawesi menuju kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Di sini mereka turut terlibat dalam perebutan politik kerajaan-kerajaan Melayu. Hingga saat ini banyak raja-raja di Johor & selangor yang merupakan keturunan orang Bugis. Sehingga tak heran bila saat ini mereka masih saling berhubungan antara satu dan lainnya. Sedang kelompok etnik terdekat yaitu Toraja, Mandar, Makassar

Konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada abad ke-16, 17, 18, dan 19, menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi Selatan. Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama di daerah pesisir. Selain itu budaya merantau juga didorong oleh keinginan akan kemerdekaan. Kebahagiaan dalam tradisi Bugis hanya dapat diraih melalui kemerdekaan.

Populasi Orang Bugis

Populasi Orang Bugis Tahun 2010 Kurang lebih '7 juta orang. Kawasan dengan populasi yang signifikan yaitu :
Seluruh Indonesia kurang lebih  6.359.000 jiwa (sensus 2010)   

Sulawesi :
Sulawesi Selatan     3.605.639     jiwa
Sulawesi Tenggara     496.410    
Sulawesi Tengah     409.709    
Sulawesi Barat     144.533    

Kalimantan :     
Kalimantan Timur     735.624    
Kalimantan Barat     137.239    
Kalimantan Selatan     70.460    

Sumatera :  
Riau     107.159    
Jambi     96.145    
Sumatera Selatan     42.977    
Bangka Belitung     33.582    
Kepulauan Riau     37.124    

Jawa      
Jakarta     68.227 jiwa, Jawa Barat 34.548 jiwa   
Malaysia     728.465 Jiwa
Singapura  : 15.374     (Sensus 1990)
(Dari Berbagi Sumber)
Bahasa yang digunakan adalah bahasa Bugis, Indonesia, Melayu, dan lain-lain.


TO UGI / ORANG BUGIS/ SUKU BUGIS
Raja Ali Haji.jpg Bacharuddin Jusuf Habibie official portrait.jpg Jusuf Kalla.jpg Dato Sri Mohd Najib Tun Razak.JPG
Muhyiddin-yassin 11.jpg Andi Ghalib.jpg Erna Witoelar.jpg Andi Mattalata.jpg
Amir Syamsuddin crop.jpg Andi-km0.jpg SyahrulYasinLimpo2.jpg Andi Arsyil Rahman.jpg

Jumat, 10 Oktober 2014

Andi Pangerang Daeng Rani ( Kepala Afdeling / Kepala Daerah Bone ) Tahun 1951 - 1955

Andi Pangerang Petta Rani atau lengkapnya Andi Pangerang Petta Rani Karaeng Bontonompo Arung Macege Matinroe ri Panaikang lahira pada tanggal 14 Mei 1903 dari rahim seorang wanita bernama I Batasai Daeng Taco. Ayahnya adalah seorang bangsawan bernama Andi Mappanyukki yang kemudian dikenal sebagai raja Bone ke XXXI.

Awalnya beliau bernama Andi Pangerang Daeng Rani tapi kemudian masyarakat lebih familiar dengan Petta Rani. Tidak ada catatan mengenai perubahan ini, pun dengan waktu pastinya. Sementara itu nama Pangerang sendiri bermula dari sebuah peristiwa ketika beliau masih dalam kandungan. Ketika itu pasangan yang sedang menanti kelahiran anak mereka itu mendatangi orang tua mereka sambil membawa persembahan atau erang-erang dalam bahasa Makassar. Peristiwa inilah yang kemudian diabadikan dalam nama Pangerang. Jadi Pangerang yang dimaksud bukanlah seperti Pangeran dalam bahasa Indonesia.

Dalam tubuh Andi Pangerang Petta Rani mengalir darah bangsawan murni dari dua kerajaan besar, Bone dan Gowa. Meski begitu sama sekali tidak ada sifat beliau untuk menjunjung tinggi darah bangsawannya. Berbagai sumber menyatakan kalau semasa hidupnya Andi Pangerang Petta Rani selalu berusaha untuk tidak terikat pada gelar kebangsawanannya. Hidupnya sederhana dan selalu menghormati orang lain meski saat itu feodalisme masih sangat kental di Nusantara.

Sifat tuna pamai atau rendah hati yang dimiliki beliau menurun dari sang ayah. Meski seorang bangsawan, Andi Mappanyukki tidak serta merta tunduk pada pemerintah kolonial Belanda yang memang terkenal senang mendekati para bangsawan. Andi Mappanyukki malah terang-terangan menentang kolonialisme sehingga sempat dibuang ke Selayar bersama keluarganya.

Andi Pangerang Petta Rani hidup dalam lingkungan yang keras dan egaliter. Sedari kecil dia sudah membiasakan dan dibiasakan hidup di antara rakyat kebanyakan tanpa harus berlindung di bawah previlige sebagai seorang bangsawan. Menurut cerita beliau sering memarahi kawan sepermainannya bila mereka segan menabrakkan diri ketika bermain bola. Teman-temannya mungkin masih segan mengingat Petta Rani adalah seorang bangsawan, tapi justru itu yang membuat Petta Rani menjadi tidak nyaman.

Andi Pangerang Petta Rani tumbuh menjadi anak muda yang cerdas, cakap dan berkeinginan kuat. Itu pula yang membawa karirnya di dunia militer dan pemerintahan meroket dengan cepat. Puncaknya adalah pada tahun 1956 ketika dia diangkat menjadi gubernur militer untuk wilayah Sulawesi di tengah suasana Indonesia yang masih kacau.

Andi Pangerang Petta Rani mempunyai 8 orang anak dari 3 orang istrinya. Istri pertama yang dinikahinya tahun 1929 bernama Basse Daeng Talanna. Perempuan yang meninggal tahun 1951 ini memberinya 5 orang anak. Istri keduanya bernama Daeng Karang, dinikahi di tahun yang sama dengan istri pertamanya. Daeng Karang memberi 3 orang anak. Tahun 1952 Andi Pangerang Petta Rani menikah untuk ketigakalinya dengan wanita bernama Ratna Winis Daeng Carammeng. Dari pernikahan ketiga ini mereka tidak dikarunia anak.

Selain terkenal sebagai seorang pejuang militer dan sipil, Andi Pangerang Petta Rani juga dikenal sebagai seorang pembina Persatuan Sepakbola Makassar (PSM). Kesuksesan PSM pada era 1950an hingga awal 1960an tidak bisa dilepaskan begitu saja dari Andi Pangerang Petta Rani. Beliau adalah sosok yang sangat dekat dan perhatian pada para pemain. ?Beliau sering meluangkan waktu untuk bertanya tentang kondisi pemain, termasuk kondisi keuangan atau rumah tangga mereka. Tak heran bila semangat pemain sangat tinggi bila mereka didampingi Andi Pangerang Petta Rani.

Banyak kisah yang menceritakan tentang keserdahaan seorang Andi Pangerang Petta Rani, termasuk kebiasaannya menaiki becak ke tempat tujuan meski dia masih berstatus gubernur. Beliau beralasan itu sebagai satu cara untuk mendekatkan diri dengan rakyat. Jabatan gubernur dan darah bangsawan hanya titipan, bukan untuk disombongkan; demikian kata beliau.

Banyak kisah yang menggambarkan betapa sederhana dan kuatnya kepribadian seorang Andi Pangerang Petta Rani. Sebagian orang malah menganggap beliau sebagai God Father, sosok yang mengayomi dan lekat dengan rakyatnya. Tak heran bila namanya diabadikan sebagai nama sebuah jalan besar di kota Makassar dan kota-kota lainnya.
Pertemuan Presiden Sukarno dengan raja-raja se-Sulawesi di Yogyakarta yang berakhir dengan pembubaran kerajaan tersebut. Dari kiri: Raja Bone Andi Mappanyukki, Presiden Sukarno, Sultan Buton La Ode Falihi, dan Gubernur Sulawesi Andi Pangerang Petta Rani

Kamis, 09 Oktober 2014

Balada Arung Palakka

 
Satu bayi suci memberontak
Melepaskan diri dari dekapan
Rahim suci bunda
Bersamaan guntur menggelegar
Merobek sunyi di keheningan langit
Bayi sucimenalap dunia
Menerima kejadian – kejadian datang
Mendengar desing – desing huru
Arung palakka ... Arung Palakka... Arung Palakka
Laki – laki batu berdarah semberani
Jiwamu memberontak
Pikiranmu mau memberontak
Merontak...merontak... merontak
Panglima melampe'e gemme'na
Berhati rajawali
Pemberontakanmu , perlawananmu
Membawa kemuliaan batin
Bagi umat Tana Bone
Bimbinganmu keperdamaian
Arung Palakka...Arung Palakka...Arung Palakka
Laki laki malampe’e gemme’ na
Berdarah bangsawan
Penberontakanmu , pahlawanmu
Menjadi merah
Merah...merah...merah kotor
Bagi sejarah bangsa lain
Namun tuhanmu di arasi
Lebih mengetahui hakikat
Jiwa dan perasaanmu
Juga baktimu ....

By Mursalim/ Teluk Bone
 
Copyright © 2007 SEJARAH BONE
Contact : bone@permata